Cari Blog Ini

Arsip Blog

Diberdayakan oleh Blogger.

JUAL BELI, HUTANG PIUTANG DAN RIBA

BAB I     PENDAHULUAN A. Latar Belakang             Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yakni satu dengan yang l...

Latest Products


BAB I
   PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, yakni satu dengan yang lainnya saling membutuhkan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak dapat hidup sendiri atau mencukupi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain. Meskipun manusia itu memiliki kedudukan yang tinggi dan memiliki kekayaan yang cukup, pastilah manusia itu membutuhkan manusia lain untuk keberlangsungan hidupnya.
            Untuk menjaga keberlangsungan hidupnya, setiap manusia melakukan komunikasi, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan manusia lainnya. Mereka saling menolong dalam urusan kemasyarakatan, seperti tukar-menukar barang (jual beli). Selain itu manusia juga bisa menggunakan metode hutang-piutang yang bila suatu saat terjadi secara mendesak, namun manusia khususnya umat Islam dilarang untuk memungut riba. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan secara mendalam tentang jual beli, hutang-piutang dan riba.

B. Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan jual beli dan bagaimana tata caranya dalam Islam?
b.      Apa yang dimaksud hutang-piutang dan bagaimana tata caranya dalam Islam?
c.       Apa yang dimaksud dengan Riba dalam Islam?

C. Tujuan dan Manfaat Makalah
a.       Untuk mengetahui tata cara jual beli dalam Islam
b.      Untuk mengetahui tata cara hutang-piutang dalam Islam
c.       Untuk mengetahui bagaimana hukum Riba dalam Islam

                                                                                                                                                      3


BAB II
PEMBAHASAN

A. Jual Beli Dan Tata Caranya Dalam Islam
            1. Pengertian dan Dasar hukum Jual Beli
            Menurut bahasa, jual beli berasal dari kata (بَاعَ – يَبِيْعُ – بَيْعًا ) yang berarti tukar menukar sesuatu dengan sesuatu. Menurut istilah, jual beli adalah suatu transaksi tukar-menukar barang atau harta benda yang mengakibatkan perpindahan hak milik sesuai dengan syarat dan rukun tertentu dengan prinsip saling rela.
            Dasar hukum jual beli bersumber dari Al-Quran, Allah SWT berfirman:

....وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا....
"....Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah/2: 275)
            Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
أَ فَضْلُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّ جُلِ بِيَدِ هِ وُ كُلُّ بَيْعِ مَبْرُ وْ رٍ
"Pendapatan yang paling utama dari seseorang adalah hasil usahanya sendiri dan hasil jual beli yang mabrur" (HR. At-Tabrani)


            2. Syarat dan Rukun Jual Beli
a. Rukun jual-beli
1)      Penjual (orang yang menjual barang)
2)      Pembeli (memperoleh sesuatu melalui penukaran (pembayaran) dengan uang)
3)      Barang atau harta yang diperjualbelikan
4)      Uang atau alat bayar yang digunakan sebagai penukar barang
5)      Akad (lafal ijab qabul sebagai bukti akan adanya kerelaan dari kedua belah pihak)
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                4
b. Syarat barang yang diperjualbelikan
1)      Barang itu suci (bukan barang najis)
2)      Barang itu bermanfaat
3)      Barang itu milik sendiri atau milik orang lain yang telah mewakilkan untuk menjualnya
4)      Barang itu dapat diserahterimakan kepemilikannya
5)      Barang itu dapat diketahui jenis, ukuran, sifat, dan kadarnya

c. Syarat penjual dan pembeli
1)      Berakal sehat; orang yang tidak sehat pikirannya maka akad jual belinya tidak sah.
2)      Atas kemauan sendiri (tidak ada unsur paksaan)
3)      Sudah dewasa (baligh); akad jual beli yang dilakukan oleh anak-anak tidak sah, kecuali pada hal-hal yang sifatnya sederhana, seperti jual beli es, permen, dll.
4)      Keadaan penjual dan pembeli bukan orang pemboros terhadap harta karena keadaan mereka yang demikian itu hartanya pada dasarnya berada pada tanggungjawab walinya.

            3. Jual Beli yang Tarlarang
a. Beberapa macam jual beli yang sah tetapi terlarang
1)      Jual beli yang harganya diatas/bawah harga pasar dengan cara menghadang penjual sebelum tiba di pasar. Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
تَتَلَقُّوْاالرُّكْبَانَ
Janganlah kamu menghadang orang yang berangkat kepasar” (HR. Ahmad: 10112)
2)      Membeli barang yang sudah dibeli atau dalam proses tawaran orang lain. Rasulullah saw bersabda:
لاَبَيْعَ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ
Janganlah seseorang menjual sesuatu yang telah dibeli orang lain” (HR. Bukhari: 2020)
                                                                                                                                                5
3)      Jual beli barang untuk ditimbun supaya dapat dijual dengan harga mahal dikemudian hari, padahal masyarakat membutuhkannya saat ini. Rasululllah saw bersabda:
لاَ يَحْتَكِرُ اِلاَّخَاطِئٌ
Tidak ada yang menahan barang kecuali orang yang durhaka (salah)” (HR. Muslim: 3013)

4)      Jual beli untuk bermaksiat
Allah Swt berfirman dalam Surah al-Ma’idah Ayat 2:
  ....وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ....
" .....dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan....."

5)      Jual beli dengan cara menipu
Rasulullah saw melarang umatnya menipu, sebagaimana diterangkan dalam sabda beliau:
لنَبِيُّ صَلَّىاللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَىا عَنْ بَيْعِ الغَرَرِ

“Nabi melarang memperjual-belikan barang yang mengandung tipuan” (HR. Abu Dawud: 2932)

6)      Jual beli yang mengandung riba
Allah Swt melarang jual beli yang dilakukan dengan cara menipu. Hal tersebut diterangkan Allah Swt dalam surah Ali Imran ayat 130

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰۤوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."

                                                                                                                                                6
b. Beberapa macam jual beli tidak sah dan terlarang
1)      Jual beli sperma binatang. Rasulullah saw bersabda:
نَهَى عَنْ بَيْعِ ضِرَابِ الْفَحلِ

“Nabi saw telah melarang menjual air mani binatang jantan” (HR. Muslim: 2926 dan Nasa’i: 4591)
2)      Menjual anak ternak yang masih dalam kandungan induknya. Rasulullah saw bersabda:
اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَىعَنْ بَيْعِ الْمَضَامِيْن

“Bahwa Nabi saw melarang menjual belikan anak ternak yang masih dalam kandungan induknya”(HR. Al-Bazzar)
3)      Menjual-belikan barang yang baru dibeli sebelum diserahterimakan kepada pembelinya. Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kamu menjual sesuatu yang kamu beli sebelum kamu terima” (HR. Ahmad: 14777 dan Al Baihaqy)
4)      Menjual buah-buahan yang belum nyata buahnya. Rasulullah saw bersabda:
نَهَى رَسُوْلُ اللّهِ صَلَى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِحَتَّى يَبْدُاصلاَحُهَا
Nabi saw telah melarang menjual buah-buah yang belum tampak manfaatnya” (HR. Bukhari: 1392)

            4. Hikmah Jual Beli
            Jual beli termasuk ibadah jika dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya. Jual beli yang dilakukan tentu mengandung hikmah bagi pelakunya, antara lain lain
a.       Membentuk kepribadian muslim agar terhindar dari kepemilikan harta secara batil.

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْۤا اَمْوَالَـكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ  وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَنْـفُسَكُمْ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
7
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 29)

b.      Membentuk kepribadian muslim agar terhindar dari kepemilikan harta secara riba. Allah SWT berfirman:

....وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا....
"....Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)

c.       Mendorong untuk saling menolong sesama manusia sehingga mempunyai nilai sosial kemasyarakatan. Allah SWT berfirman:
  وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ  وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ...

".....Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 2)

d.      Mendidik pihak penjual dan pembeli agar memiliki sifat-sifat tenggang rasa, hormat-menghormati, lapang dada dan tidak tergesa-gesa. Rasulullah saw bersabda:

عَنْ انَبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللّهُ رَجُلاً سَمْحًا اِذَا بَاعَ وَاِذَااشْتَرَىوَاِذَااقْتَضَى

Allah memberi rahmat kepada orang yang berlapang dada pada saat menjual, pada saat membeli dan pada saat menagih hutang” (HR. Bukhari: 1934)




                                                                                                                                                                                                                                                                                                8
B. Hutang-piutang Dan Tata Caranya Dalam Islam
            1. Pengertian Hutang-piutang
            Hutang piutang adalah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan perjanjian dia akan membayar atau mengembalikan barang tersebut dengan jumlah yang sama.
Jika ada tambahan waktu mengembalikan hutang itu, lebih dari jumlah semestinya harus diterima, dan tambahan itu telah menjadi perjanjian sewaktu akad, maka tambahan dari jumlah yang semestinya, tidak halal atas piutang pengembaliannya.

            2. Rukun Hutang-piutang
a.       Lafadz / Ijab qabul
b.      Orang yang berhutang
c.       Orang yang berpiutang
d.      Utang atau barang yang di piutangkan

            3. Hukum Hutang-piutang
            Untuk hukum memberi piutang adalah sunnah, sama halnya seperti dalam hal tolong menolong. Rasulullah saw bersabda:
وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَادَامَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ اَخِيْهِ
“Allah akan menolong, hamba-Nya selama hamba itu suka menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
            Memberi hutang kadang-kadang dapat menjadi wajib, seperti jika menghutangi orang yang terlantar atau orang yang sangat membutuhkan. Dan hal ini adalah suatu pekerjaan yang amat besar faedahnya terhadap manusia, karena dapat menjadi penolong bagi manusia yang lain.

                                                                                                                                                9
            4. Syarat Hutang-piutang
a.       Benda atau harta yang dijadikan hutang bersifat jelas dan murni serta merupakan sesuatu yang halal.
b.      Orang yang memberikan pinjaman atau hutang tidak akan mengungkit-ngungkit permasalahan hutang piutangnya serta tidak akan menyakiti seseorang yang diberi pinjaman atau yang berhutang.
c.       Sipeminjam atau pihak yang berhutang berniat untuk mendapatkan ridho Allah dengan menggunakan hutangnya secara baik dan benar.
d.      Tidak memberikan riba atau tidak memberi keuntungan atau kelebihan atas barang atau harta yang dihutangkan kepada pihak yang memberikan hutang.


            5. Adab Hutang Piutang
a.       Di adakan perjanjian tertulis serta adanya saksi yang bisa dipercaya.
b.      Seseorang yang memberikan hutang atau pinjaman tidak menerima keuntungan atas apa yang telah dihutangkannya.
c.       Seseorang yang berhutang berniat melunasi hutangnya dan harus membayar hutangnya dengan cara yang benar yaitu membayar dengan harta atau benda yang sama halalnya dengan apa yang dipinjamnya.
d.      Berhutanglah pada seseorang yang mempunyai penghasilan yang halal dan orang tersebut merupakan orang yang shaleh.
e.       Lakukanlah hutang piutang bila dalam kondisi darurat atau dalam keadaan yang terdesak saja.
f.       Jika ada keterlambatan dalam melunasi hutang maka beritahukanlah pihak yang memberikan pinjaman.







                                                                                                                                                10


C. Riba Dalam Islam
            1. Pengertian Riba
            Riba menurut bahasa berarti al-ziyadah (tambahan). Menurut istilah, riba adalah suatu bentuk tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan, sebagai syarat terjadinya transaksi utang piutang atau pinjam-meminjam. Misalnya, A memberi pinjaman kepada B dengan syarat B harus mengembalikan uang pokok pinjaman beserta tambahan. Dengan demikian, terjadinya transaksi utang piutang dikarenakan adanya syarat tambahan. Apabila syarat tambahan tidak dipenuhi maka transaksi itu tidak terjadi. Tambahan pengembalian utang dari pokok pinjaman itulah yang disebut riba.
            Memberikan utang dengan syarat adanya tambahan seperti hal tersebut, pada hakikatnya merupakan praktik eksploitasi (pemerasan) si kaya kepada si miskin. Hal ini menunjukkan bahwa pihak si miskin bukan ditolong, tetapi justru diperas, sebagai akibatnya si miskin semakin bertambah miskin.

            2. Dasar Hukum Dilarangnya Riba
            Praktik penambahan pada utang piutang atau pinjam-meminjam adalah riba. Oleh karena itu, Islam mengharamkannya. Banyak dalil yang menunjukkan keharaman riba. Baik dari ayat Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad saw. Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوا الرِّبٰۤوا اَضْعَافًا مُّضٰعَفَةً  ۖ  وَّاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 130)

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّ ۗ  ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْۤا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا  ۘ  وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا  ۗ  فَمَنْ جَآءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَ ۗ  وَاَمْرُهٗۤ اِلَى اللّٰهِ ۗ  وَمَنْ عَادَ فَاُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ  هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
11
"Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila. Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba. Padahal, Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Barang siapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 275)
            Selain dalam Al-Qur’an, dasar diharamkannya Riba juga berasal dari Hadits Nabi “Dari Jabir berkata, Rasulullah saw, telah melaknat (mengutuk) orang yang memakan riba, wakilnya, penulisnya dan dua saksinya” (HR. Muslim: 2995)


            3. Macam-Macam Riba
            Riba (nilai lebih) yang diharamkan dalam proses pinjam-meminjam atau utang piutang ada beberapa macam, yaitu riba fadl, riba qardi, riba nasi’ah, dan riba yad.
a.       Riba fadl
Riba Fadl adalah tukar-menukar atau jual beli dua buah barang yang sama jenisnya, namun tidak sama ukurannya. Ketidaksamaan ukuran tersebut disyaratkan oleh orang yang menukarnya. Dengan kata lain, jual beli yang mengandung unsur riba pada barang yang sejenis dengan menentukan adanya tambahan pada salah satu benda tersebut. Misalnya, tukar-menukar emas dengan emas atau beras dengan beras. Dalam tukar-menukar tersebut, ada kelebihan yang disyaratkan oleh orang yang menukarkan. Kelebihan yang disyaratkan itu disebut riba fadl.
b.      Riba Qardi
Riba qardi adalah riba yang terjadi karena adanya proses utang piutang atau pinjam-meminjam dengan syarat keuntungan (bunga) dari orang yang meminjam atau yang berhutang. Misalnya, seseorang meminjam uang sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta) kemudian diharuskan membayarnya Rpl.300.000,00 (satu juta tiga ratus ribu rupiah).

                                                                                                                                          12
c.       Riba Nasi’ah
Riba nasi'ah adalah tambahan yang disyaratkan oleh orang yang memberikan utang dari orang yang berutang sebagai imbalan atas penangguhan (penundaan) pembayaran utangnya. Dengan kata lain, riba yang pembayarannya atau penukarannya berlipat ganda karena waktunya diundurkan. Misalnya, A meminjam uang Rp1.000.000,00 kepada si B dengan perjanjian waktu mengembalikannya satu bulan. Setelah jatuh tempo, si A belum dapat mengembalikan utangnya. Untuk itu, si A menyanggupi memberi tambahan pembayaran jika si B mau menunda jangka waktunya. Contoh lain, si B menawarkan kepada si A untuk membayar utangnya sekarang atau minta ditunda dengan memberikan tambahan.
d.      Riba Yad
Riba yad adalah riba yang dilakukan oleh dua orang yang bertukar barang atau jual beli dengan berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima antara penjual dan pembeli. Menurut Ibnu Qayyim, perpisahan dua orang yang melakukan jual beli sebelum serah terima mengakibatkan perbuatan tersebut menjadi riba. Misalnya, seseorang membeli satu kuintal beras. Setelah dibayar, si penjual langsung pergi, sedangkan berasnya dalam karung belum ditimbang apakah cukup atau tidak. Jual beli ini belum jelas yang sebenarnya.

            4. Hikmah Dilarangnya Riba
            Riba sebagai salah satu bentuk penjajahan manusia terhadap manusia lainnya. Oleh sebab itu, Allah mengharamkan riba tentu memiliki hikmah, diantaranya:
a)      Riba dapat mengikis sifat belas kasih dan rasa kemanusiaan, serta dapat menimbulkan permusuhan antarsesama.
b)      Riba dapat memupuk sifat mementingkan diri sendiri, memperkaya diri tanpa upaya yang wajar, dan rela melihat orang lain menderita.
c)      Riba dapat menjauhkan seseorang dari Allah Swt. Karena Allah tidak menyukai perbuatan-perbuatan maksiat yang tidak berperikemanusiaan.
                                                                                                                                                13


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
            Jual beli menurut bahasa berarti tukar menukar sesuatu dengan sesuatu. Menurut istilah, jual beli adalah suatu transaksi tukar-menukar barang atau harta benda yang mengakibatkan perpindahan hak milik sesuai dengan syarat dan rukun tertentu dengan prinsip saling rela.
            Hutang piutang adalah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan perjanjian dia akan membayar atau mengembalikan barang tersebut dengan jumlah yang sama.
            Riba menurut bahasa berarti tambahan. Menurut istilah, riba adalah suatu bentuk tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan, sebagai syarat terjadinya transaksi utang piutang atau pinjam-meminjam.

B. Saran
            Dengan adanya makalah ini, penulis berharap agar pembaca dapat menambah wawasan terutama mengenai pembahasan yang dibahas dalam makalah ini. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah masih terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran yang membangun dari pembaca.



                                                                                                                                                14

FREE WORLDWIDE SHIPPING

BUY ONLINE - PICK UP AT STORE

ONLINE BOOKING SERVICE